Menag Nasaruddin Umar: Sudah Saatnya Indonesia Ambil Peran Lebih Besar dalam Peradaban Islam Dunia

kataandoolo
17 Jul 2026 15:42
4 menit membaca

Jakarta, Kataandoolo.com – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam membangun peradaban Islam dunia. Menurutnya, estafet pengembangan peradaban Islam yang maju, damai, dan berkemajuan kini memiliki peluang besar untuk tumbuh dari Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menghadiri peluncuran dan bedah tiga buku seri pemikirannya yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta di Auditorium Harun Nasution, Kampus I UIN Jakarta, Kamis (16/7/2026).

“Bagi saya, sudah saatnya Indonesia mengambil peran yang lebih besar dalam membangun peradaban Islam dunia. Timur Tengah telah menunaikan peran historisnya sebagai tempat lahirnya Islam. Kini estafet pengembangan peradaban Islam yang maju, damai, dan berkemajuan memiliki peluang besar untuk tumbuh dari Indonesia,” ujar Nasaruddin Umar.

Tiga buku yang diluncurkan dalam kegiatan tersebut yakni “Pikiran yang Memurnikan: Jejak Mahakarya Prof. Nasaruddin Umar, Simpul Pemikiran Prof. Nasaruddin Umar, serta Artikel dan Opini Pilihan Prof. Nasaruddin Umar” . Ketiga buku tersebut merekam perjalanan intelektual Nasaruddin Umar dalam berbagai isu keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, hingga peradaban.

Peluncuran buku dihadiri Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., jajaran pimpinan Kementerian Agama, para rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), pimpinan perguruan tinggi Islam swasta, guru besar, akademisi, ulama, birokrat, cendekiawan, serta mahasiswa dari berbagai daerah.

Dalam pidatonya, Nasaruddin Umar mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan kampus sebagai pusat lahirnya pemikiran besar melalui budaya membaca, menulis, meneliti, dan menerbitkan karya ilmiah.

Ia juga mengenang kuatnya tradisi intelektual yang pernah tumbuh di kawasan Ciputat pada masa kepemimpinan Prof. Dr. M. Quraish Shihab sebagai Rektor UIN Jakarta. Menurutnya, saat itu diskusi ilmiah menjadi ruang bertemunya para profesor, dosen, mahasiswa, dan komunitas intelektual dari berbagai perguruan tinggi.

“Saya masih mengingat suasana intelektual di Ciputat pada masa lalu. Di kawasan ini tumbuh berbagai komunitas akademik yang aktif berdiskusi dan berdebat secara sehat. Persaingan yang terjadi bukanlah persaingan politik semata, melainkan persaingan intelektual yang melahirkan gagasan-gagasan besar. Saya berharap semangat akademik seperti itu dapat kita hidupkan kembali,” katanya.

Nasaruddin Umar menilai Ciputat memiliki posisi strategis sebagai titik temu tradisi pemikiran Timur dan Barat yang selama ini melahirkan banyak pemikir Islam berpengaruh. Karena itu, ia berharap perguruan tinggi Islam di Indonesia terus memperkuat budaya literasi dan riset sebagai fondasi kemajuan peradaban.

Sementara itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., mengatakan peluncuran ketiga buku tersebut menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali budaya literasi dan tradisi akademik di lingkungan perguruan tinggi.

Menurutnya, karya-karya Nasaruddin Umar tidak hanya mendokumentasikan perjalanan intelektual selama puluhan tahun, tetapi juga menghadirkan perspektif baru yang memperkaya khazanah keilmuan Islam kontemporer.

“Tiga buku karya Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar tidak hanya mendokumentasikan perjalanan intelektual beliau selama puluhan tahun, tetapi juga menghadirkan perspektif baru yang memperkaya khazanah keilmuan Islam kontemporer. Peluncuran buku ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari ikhtiar membangun kembali tradisi intelektual di kampus,” ujar Asep.

Ia menjelaskan, gagasan-gagasan Nasaruddin Umar yang mencakup hermeneutika gender, eko-sufisme, hermeneutika sosial, psikosufisme, hingga ekoteologi merupakan kontribusi penting bagi perkembangan studi Islam di Indonesia maupun dunia. Karena itu, ia berharap karya-karya tersebut dapat menjadi rujukan bagi lahirnya penelitian, skripsi, tesis, disertasi, serta berbagai publikasi ilmiah lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI, Yusril Ihza Mahendra, mengapresiasi produktivitas intelektual Nasaruddin Umar. Menurutnya, ketiga buku tersebut menunjukkan keluasan perspektif keilmuan yang mampu memadukan kajian keislaman dengan pendekatan multidisipliner.

“Seorang intelektual tidak boleh berhenti pada teks semata, tetapi harus mampu membaca dinamika sosial dan persoalan zaman. Dari situlah lahir karya-karya Prof. Nasaruddin Umar yang mampu menjembatani ajaran Islam dengan realitas kehidupan masyarakat modern,” kata Yusril.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan peluncuran simbolis tiga buku, penandatanganan poster buku, penyerahan buku kepada sepuluh tokoh nasional sebagai simbol penyebarluasan gagasan, serta sesi bedah buku yang menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar. Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum memperkuat budaya literasi, riset, dan tradisi intelektual Islam di lingkungan perguruan tinggi Indonesia.

kataandoolo.com adalah media jaringan (Network) dari katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x