Data Desa Presisi Jadi Fondasi, IPB dan CAU Ajak Ciangsana Belajar dari Pembangunan Perdesaan Tiongkok

kataandoolo
27 Agu 2026 02:27
4 menit membaca

Bogor,Kataaandoolo.com – Keberadaan Data Desa Presisi (DDP) yang dipadukan dengan partisipasi masyarakat, pengetahuan perguruan tinggi, dan pembelajaran dari pengalaman pembangunan global dapat menjadi fondasi penting bagi transformasi Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Hal tersebut mengemuka dalam Public Lecture “Pembelajaran dan Keberhasilan Pembangunan Perdesaan di Tiongkok untuk Pemberdayaan Masyarakat Desa Ciangsana” yang diselenggarakan Pemerintah Desa Ciangsana pada Rabu (26/8/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Tang Lixia dari China Agricultural University (CAU) dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) IPB University, Prof. Dr. Sofyan Sjaf, S.Pt., M.Si.

Kegiatan diikuti perangkat desa, BPD, LPM, ketua RT dan RW, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, serta berbagai elemen masyarakat.

Prof. Sofyan mengatakan bahwa pembangunan desa membutuhkan kemampuan untuk menghubungkan informasi lokal dengan pengetahuan yang lebih luas.

Pembelajaran dari pembangunan perdesaan di Tiongkok, misalnya, dapat digunakan sebagai bahan refleksi untuk memperkuat pembangunan di Desa Ciangsana. Namun, setiap pengetahuan dan inovasi dari luar perlu disesuaikan dengan kondisi lokal.

_“Belajar dari pengalaman negara lain bukan berarti kita harus menyalin model pembangunan mereka. Yang jauh lebih penting adalah memahami prosesnya, menemukan prinsip-prinsip yang relevan, kemudian mengadaptasinya sesuai kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan sumber daya yang dimiliki desa kita sendiri,”_ ujar Prof. Sofyan.

Menurutnya, kemampuan melakukan adaptasi akan lebih kuat apabila desa memiliki basis data yang baik. Dalam hal ini, Desa Ciangsana telah memiliki modal penting melalui Data Desa Presisi yang dibangun melalui kerja sama dengan IPB University.

DDP menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk membaca kondisi sosial dan spasial masyarakat, mengenali potensi ekonomi, mengetahui kelompok masyarakat, memetakan kebutuhan, dan merumuskan program yang lebih tepat sasaran.

_“Pembangunan desa tidak boleh dimulai hanya dari asumsi. Desa harus mengetahui siapa warganya, di mana mereka berada, apa kondisi sosial ekonominya, apa sumber daya yang dimiliki, serta persoalan apa yang benar-benar mereka hadapi. Karena itu, data bukan sekadar kebutuhan administratif, tetapi instrumen bagi masyarakat desa untuk menentukan masa depannya,”_ tegasnya.

Data Desa Presisi dibangun melalui pendekatan bottom-up yang menggabungkan sensus, teknologi digital, data spasial, dan partisipasi masyarakat. Pendekatan tersebut penting karena menempatkan masyarakat sebagai bagian dari proses produksi pengetahuan mengenai desanya.

Prof. Sofyan menekankan bahwa data bukan tujuan akhir. Data harus mampu dikembangkan menjadi pengetahuan, kemudian diterjemahkan ke dalam perencanaan dan tindakan kolektif.

Perguruan tinggi dapat mengambil posisi sebagai mitra strategis dalam proses tersebut.

_“Perguruan tinggi tidak cukup hanya datang ke desa untuk melakukan penelitian. Pengetahuan harus dipertautkan dengan masyarakat dan mampu membantu desa memecahkan persoalan nyata. Ketika pengetahuan akademik bertemu dengan pengetahuan lokal masyarakat, data yang presisi, dan kepemimpinan desa yang kuat, di situlah peluang transformasi desa menjadi jauh lebih besar,”_ jelas Prof. Sofyan.

Ia juga menilai bahwa jejaring internasional seperti China Agricultural University dapat memperkaya proses pembelajaran tersebut.

Tiongkok memiliki pengalaman dalam penguatan ekonomi lokal, pembangunan infrastruktur, penggunaan teknologi, peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan, dan pengembangan usaha berbasis sumber daya wilayah.

Pengalaman itu dapat digunakan untuk memperluas cara pandang masyarakat dan pemerintah desa dalam mengembangkan potensi Ciangsana.

Namun, Prof. Sofyan kembali mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya didasarkan pada infrastruktur fisik.

Keberhasilan yang lebih substantif harus tercermin dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat, terbukanya kesempatan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, perlindungan lingkungan, dan meningkatnya kemampuan masyarakat dalam menentukan arah kehidupannya.

_“Tujuan akhirnya bukan membangun desa yang sekadar terlihat maju secara fisik. Kita ingin membangun masyarakat desa yang berdaya, mampu mengelola sumber dayanya, memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan, dan memperoleh manfaat nyata dari proses pembangunan,”_ katanya.

Karena itu, Prof. Sofyan berharap Public Lecture ini dapat menjadi pintu masuk menuju tahapan pembangunan yang lebih konkret.

Data Desa Presisi dapat dimanfaatkan untuk menentukan sektor prioritas, mengidentifikasi kelompok sasaran, menemukan potensi ekonomi, merancang peningkatan sumber daya manusia, serta mengembangkan berbagai inovasi desa.

Kolaborasi antara Pemerintah Desa Ciangsana, masyarakat, FISEMA IPB University, IPB University, dan China Agricultural University diharapkan berkembang menjadi ruang pembelajaran yang berkelanjutan.

“Pertautkan inovasi bersama orang desa akan membawa perubahan substantif bagi masa depan desa dan negeri kita. Desa harus memiliki data, pengetahuan, dan kemampuan untuk merancang masa depannya sendiri. Tugas perguruan tinggi adalah berjalan bersama masyarakat dalam proses tersebut,”pungkasnya.

kataandoolo.com adalah media jaringan (Network) dari katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x