
Bandung, Kataandoolo.com – Koridor kerja sama akademik antara Indonesia dan Malaysia memasuki babak baru. Melalui gelaran International Education Forum yang menjadi bagian dari rangkaian Selangor Business Summit, para akademisi dan pimpinan perguruan tinggi dari kedua negara berkumpul untuk merumuskan langkah strategis. Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung khidmat di Hotel Pullman Bandung, Kamis (9/7/2026).
Fokus utama dalam forum tersebut adalah pembahasan mengenai rencana tindak lanjut program gelar ganda (double degree) yang diharapkan dapat mempercepat peningkatan mutu lulusan di kedua negara. Hadir sebagai salah satu tokoh sentral, Wakil Rektor Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke.
Dalam pandangannya, Ismail menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar formalitas di atas kertas, melainkan sebuah jembatan nyata bagi masa depan generasi muda.
“Program double degree ini adalah langkah konkret untuk menyatukan potensi akademik dua negara serumpun. Kita tidak hanya bertukar mahasiswa, tetapi juga menyelaraskan standar kompetensi global,” ujar Ismail Suardi Wekke.
Lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa implementasi program ini harus segera dikonkretkan agar kurikulum antara perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia dapat saling melengkapi. Menurutnya, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan sendiri berkomitmen penuh untuk menjadi bagian dari ekosistem pendidikan internasional ini demi membuka cakrawala baru bagi mahasiswa di daerah.
Forum ini juga dihadiri Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang bertindak sebagai pembicara panel. Dalam pemaparannya, Rektor IPDN menyoroti pentingnya integrasi ilmu tata kelola pemerintahan dengan wawasan internasional dalam menghadapi tantangan global yang kian kompleks.
“Transformasi pendidikan tinggi di era sekarang menuntut kita untuk keluar dari zona nyaman dan membangun jejaring lintas negara yang kokoh,” kata Rektor IPDN saat memaparkan materinya di depan forum.
Ia juga menambahkan bahwa lembaga pendidikan kedinasan seperti IPDN sangat terbuka terhadap kolaborasi strategis yang mampu memperkaya perspektif para praja, terutama dalam memahami tata kelola publik di tingkat regional ASEAN.
Pertemuan yang diinisiasi sebagai bagian dari Selangor Business Summit ini menghasilkan beberapa poin kesepakatan penting, termasuk pembentukan tim kerja bersama untuk merumuskan regulasi teknis double degree.
Menutup pernyataannya kepada media, Ismail Suardi Wekke mengingatkan bahwa tantangan terbesar berada pada tahap eksekusi pasca-forum.
“Tantangan kita ke depan adalah birokrasi dan penyelarasan kredit akademik. Namun, dengan semangat persaudaraan yang kuat di forum ini, saya optimis dokumen kerja sama ini akan segera mewujud jadi aksi nyata di ruang-ruang kelas,” tutupnya.


Tidak ada komentar