
Kendari,Kataandoolo.com – Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (SEMA FUAD) UIN Kendari membuka periode kepengurusan 2026–2027 dengan menggelar Seminar Parlemen Mahasiswa, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Perpustakaan UIN Kendari mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WITA itu diikuti lebih dari 100 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya UIN Kendari, Universitas Halu Oleo (UHO), Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), dan Universitas Lakidende (Unilaki).
Seminar mengangkat tema “Legislator Muda yang Kritis, Berintegritas, dan Berkarakter Islami dalam Mewujudkan Kebijakan Publik.” Kegiatan tersebut menjadi program pertama SEMA FUAD pada periode 2026–2027 di bawah kepemimpinan Agustiana Amanda Putri.
Kegiatan dibuka oleh Ketua SEMA UIN Kendari, Awal Hidayat. Dalam pelaksanaannya, SEMA FUAD menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang akademisi, penyelenggara pemilu, dan lembaga legislatif.

Dr. H. Muh. Ikhsan, S.Ag., M.Ag., Direktur Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi UIN Kendari yang pernah menjabat sebagai Wakil Dekan III FUAD IAIN Kendari periode 2019–2023, menyampaikan materi mengenai nilai-nilai Islam dalam kepemimpinan mahasiswa, demokrasi, musyawarah, dan integritas organisasi kemahasiswaan.
Narasumber kedua, Dr. Andi Muh. Dzul Fadli, S.Sos., M.Si. dari KPU Konawe, membahas pendidikan demokrasi dan partisipasi politik mahasiswa dalam mewujudkan demokrasi kampus yang berkualitas.
Sementara Dr. H. Ardin, S.Sos., M.Si., anggota DPRD Sulawesi Tenggara, menyampaikan materi mengenai peran lembaga legislatif dalam penyaluran aspirasi, legislasi, dan pengawasan kebijakan publik.
Ketiga materi tersebut mempertemukan perspektif keislaman, pendidikan demokrasi, dan praktik legislatif dalam satu ruang diskusi mahasiswa.
Organisasi Mahasiswa sebagai Ruang Belajar Demokrasi.
Dalam pemaparannya, Muh. Ikhsan menekankan bahwa organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk belajar demokrasi sebelum memasuki dunia kepemimpinan yang lebih luas.
“Kepemimpinan mahasiswa sering dipandang sebagai ruang belajar demokrasi sebelum seseorang memasuki dunia kepemimpinan yang luas,” ujarnya.
Menurutnya, di dalam organisasi mahasiswa seseorang belajar berbicara, berargumentasi, mengambil keputusan, mengelola pilihan, sekaligus mempertanggungjawabkannya.
Pandangan tersebut menempatkan organisasi kemahasiswaan bukan sekadar sebagai tempat menjalankan program kerja. Organisasi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menyampaikan aspirasi, menghadapi perbedaan pendapat, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Ketua SEMA FUAD UIN Kendari, Agustiana Amanda Putri, mengatakan seminar tersebut bukan sekadar agenda kegiatan, tetapi menjadi langkah awal kepengurusan dalam membangun ruang belajar dan diskusi bagi mahasiswa.
“Bagi kami ini bukan hanya sekadar sebuah kegiatan, tetapi juga menjadi langkah awal membangun ruang belajar, berdiskusi, dan mengembangkan wawasan mahasiswa dalam kehidupan organisasi dan parlemen kampus,” kata Agustiana.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengalaman dan pemahaman baru sekaligus mendorong mahasiswa berani menyampaikan gagasan, berpikir kritis, dan menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab.
Mahasiswa dan Pendidikan Politik
Kehadiran mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi membuat seminar tidak hanya menjadi forum internal SEMA FUAD. Ruang diskusi tersebut mempertemukan mahasiswa dengan perspektif dari penyelenggara pemilu, akademisi, dan lembaga legislatif.
Bagi mahasiswa, pemahaman mengenai demokrasi tidak berhenti pada persoalan pemilu. Mahasiswa juga perlu memahami bagaimana aspirasi disampaikan, bagaimana proses legislasi berjalan, serta bagaimana kebijakan publik dapat diawasi.
Hal tersebut dirasakan Muldianto, mahasiswa UIN Kendari dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab. Ia menilai forum yang dibangun para pemateri membuat seminar tidak sekadar menjadi kegiatan formal.
“Dengan pemateri yang membuka ruang diskusi, kegiatan kali ini bukan formalitas belaka, melainkan bertukar pikiran dan pendapat,” kata Muldianto.
Ia juga menilai integritas menjadi salah satu pesan penting yang perlu terus dikedepankan dalam kehidupan organisasi mahasiswa.
Seminar Parlemen Mahasiswa ini menjadi langkah perdana SEMA FUAD pada periode 2026–2027. Tantangan selanjutnya bukan hanya mempertahankan kegiatan semacam ini sebagai agenda tahunan, tetapi memastikan ruang diskusi tersebut dapat berkembang menjadi budaya berpikir kritis, partisipasi, dan tanggung jawab di lingkungan mahasiswa.
Sebab, demokrasi tidak hanya membutuhkan mahasiswa yang berani berbicara, tetapi juga mahasiswa yang mampu menyampaikan gagasan dengan argumentasi, menghormati perbedaan, serta bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat


Tidak ada komentar