Momentum HUT RI, ADKI Resmi Dideklarasikan untuk Perkuat Peran Akademisi Keagamaan

kataandoolo
17 Agu 2026 10:39
3 menit membaca

Jakarta, Kataandoolo.com – Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia 2026, para akademisi lintas perguruan tinggi keagamaan resmi mendeklarasikan Asosiasi Dosen Keagamaan Indonesia (ADKI). Kehadiran asosiasi tersebut menjadi langkah baru untuk memperkuat kolaborasi akademik sekaligus meningkatkan kontribusi dosen keagamaan terhadap pembangunan bangsa.

Pendirian ADKI dilatarbelakangi kebutuhan untuk mengonsolidasikan potensi akademisi dalam bidang riset, pengembangan kurikulum, advokasi profesi, serta pengabdian kepada masyarakat. Wadah tersebut diarahkan menjadi ruang kolaborasi yang inklusif dan transformatif bagi dosen di lingkungan perguruan tinggi keagamaan.

Salah satu pendiri ADKI, Ismail Suardi Wekke, mengatakan pemilihan momentum HUT Kemerdekaan RI bukan sekadar seremoni. Menurut dia, deklarasi ADKI merupakan penegasan komitmen kebangsaan kalangan akademisi keagamaan.

“Kemerdekaan Indonesia diraih dan dipertahankan lewat integrasi nilai keagamaan dan kebangsaan. Kehadiran ADKI adalah wujud bakti sivitas akademika dalam mengisi kemerdekaan melalui penguatan tradisi ilmiah, kolaborasi riset lintas disiplin, serta menghadirkan kajian keagamaan yang moderat dan berdampak langsung pada masyarakat,” ujar Ismail, Senin (17/8/2026).

Ismail menilai keberagaman institusi pendidikan tinggi keagamaan di Indonesia merupakan kekuatan yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari diplomasi keilmuan di tingkat global.

Selama ini, kata dia, Indonesia kerap dikenal sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun, identitas Indonesia tidak berhenti pada aspek tersebut karena masyarakatnya juga hidup dalam keragaman agama dan tradisi keagamaan.

“Hanya saja, itu satu hal. Pada potret yang lain, Indonesia juga menjadi rumah bagi tumbuhnya keberagaman dalam keberagamaan. Di Indonesia kita ada juga perguruan tinggi Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, dan Konghucu. Kesemuanya ini merupakan wajah Indonesia yang dapat menjadi instrumen diplomasi keilmuan di tingkat global,” jelas Ismail.

Dalam peta jalan organisasinya, ADKI menempatkan penguatan kapasitas riset interdisipliner sebagai salah satu agenda prioritas. Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah dosen keagamaan, termasuk memperluas kontribusinya dalam diskursus akademik internasional.

ADKI juga berkomitmen mengambil peran dalam advokasi dan pengembangan profesi dosen. Asosiasi tersebut akan mendorong terciptanya ekosistem kerja akademik yang sehat, meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap teknologi digital dalam proses pembelajaran, serta mengawal pengembangan karier dosen keagamaan di Indonesia.

Selain penguatan akademik dan profesi, pengabdian kepada masyarakat serta moderasi beragama menjadi bagian penting dari agenda ADKI. Para akademisi yang tergabung diharapkan mampu menghadirkan kajian keagamaan yang kontekstual dan solutif terhadap berbagai persoalan sosial kontemporer.

Peran tersebut dinilai penting untuk memperkuat harmoni kehidupan beragama di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Dengan basis keilmuan dan jejaring lintas perguruan tinggi, ADKI diharapkan mampu memperluas kontribusi akademisi keagamaan di tingkat nasional maupun internasional.

Pasca-deklarasi, ADKI menargetkan perluasan jejaring kolaborasi sekaligus penguatan posisi organisasi sebagai mitra strategis dalam pengembangan kebijakan pendidikan tinggi keagamaan.

“Kesemuanya ini merupakan wajah Indonesia yang dapat menjadi instrumen diplomasi keilmuan di tingkat global,” tegas Ismail.

kataandoolo.com adalah media jaringan (Network) dari katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x