
Pelandia, Kataandolo.com – Sebuah kolaborasi lintas negara mulai dirintis dari Desa Pelandia, Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan. Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa menggandeng Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Malaysia, untuk mengembangkan model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kemitraan yang pada Senin (20/7/2026) itu mempertemukan Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, dengan Pengerusi Koperasi Homestay Teluk Ketapang, Md Azmi A. Azis. Pertemuan tersebut turut dihadiri Kepala Desa Pelandia dan Sekretaris Kecamatan Buke sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pengembangan desa berbasis kolaborasi.
Bagi IAI Rawa Aopa, kerja sama ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Transformasi desa tidak boleh sekadar menjadi komoditas wacana di ruang-ruang seminar kampus. Perguruan tinggi keagamaan Islam harus hadir sebagai intermedian sekaligus penggerak perubahan yang melekat langsung di tengah-tengah masyarakat,” kata Ismail Suardi Wekke.
Menurut Ismail, Desa Pelandia dipilih sebagai lokasi awal untuk membangun model kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan mitra internasional.
“Dari Desa Pelandia, kami berkomitmen meletakkan batu pertama bagi sebuah ekosistem baru. Kehadiran Md Azmi A. Azis dari Koperasi Teluk Ketapang Malaysia diikhtiarkan membawa perspektif global dan pengalaman praktis sektor hospitality yang akan disenyawakan dengan kearifan lokal Kecamatan Buke. Hal ini menjadi model hilirisasi pengetahuan yang langsung menyentuh akar rumput demi menjawab kebutuhan masyarakat desa,” ujarnya.
Dalam kerja sama tersebut, Koperasi Homestay Teluk Ketapang akan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism), pengembangan homestay, hingga penguatan ekonomi kreatif desa.
Md Azmi A. Azis menilai keberhasilan pembangunan desa bergantung pada sejauh mana masyarakat menjadi pelaku utama dalam proses tersebut.
“Warga desa harus menjadi pemilik saham utama dalam pembangunan daerahnya sendiri,” katanya.
Melalui kemitraan ini, kedua lembaga merancang sejumlah program, di antaranya pelatihan pengelolaan akomodasi lokal, digitalisasi pemasaran potensi desa, serta pendampingan bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan koperasi lokal.
Pemerintah Kecamatan Buke dan Pemerintah Desa Pelandia menyatakan siap mendukung pelaksanaan program tersebut. Desa Pelandia diharapkan menjadi lokasi percontohan pengembangan desa berbasis kolaborasi akademik, pemerintah, dan komunitas internasional yang dapat direplikasi di wilayah lain.


Tidak ada komentar