
Desa Aopa,Kataandoolo.com — Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 H / 2026 M di Desa Aopa, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, diwarnai polemik yang menuai sorotan dari kalangan mahasiswa desa setempat.
Sorotan tersebut muncul setelah Kepala Desa Aopa menyampaikan sambutan di hadapan masyarakat dalam rangka perayaan Idul Adha. Dalam sambutannya, Kepala Desa diduga melontarkan pernyataan yang menyinggung sejumlah mahasiswa Desa Aopa yang selama ini aktif mengkritisi kebijakan pemerintah desa, khususnya terkait pengelolaan Dana Desa.
Salah satu mahasiswa Desa Aopa, Muh. Reyhan, menilai pernyataan tersebut bernada menyudutkan mahasiswa yang sebelumnya melakukan aksi demonstrasi serta pelaporan terkait dugaan penyimpangan penyaluran Dana Desa Tahun Anggaran 2019–2025.
“Dalam sambutannya, Kepala Desa menyampaikan bahwa di akhir masa jabatannya ada pihak-pihak yang berupaya menjelekkan namanya. Bahkan pernyataan itu disampaikan dengan merujuk secara langsung kepada salah satu mahasiswa,” ujar Muh. Reyhan kepada media.
Menurut Reyhan, pernyataan tersebut tidak tepat disampaikan dalam momentum Hari Raya Idul Adha yang semestinya menjadi ruang mempererat silaturahmi, memperkuat persaudaraan, serta menjaga keharmonisan antar warga.
Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan mahasiswa bukan ditujukan untuk menyerang pribadi siapa pun, melainkan sebagai bentuk kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan desa. Terlebih, menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal penggunaan anggaran publik agar dikelola secara transparan dan akuntabel.
“Kami menyampaikan kritik dan laporan bukan karena kepentingan pribadi. Ini bentuk kepedulian kami terhadap Desa Aopa. Harapan kami sederhana, agar anggaran desa dikelola secara terbuka, tepat sasaran, dan benar-benar berpihak kepada masyarakat,” tegasnya.
Pernyataan Kepala Desa tersebut kini menjadi perhatian masyarakat Desa Aopa. Sejumlah mahasiswa berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik yang memecah hubungan sosial di tengah masyarakat.
Reyhan juga berharap perbedaan pandangan antara pemerintah desa dan mahasiswa dapat diselesaikan melalui dialog yang sehat, terbuka, dan saling menghormati.
“Idul Adha seharusnya menjadi momentum kebersamaan, saling memaafkan, dan memperkuat persatuan. Bukan Memperumit Keadaan dan Terkesan memecah bela sesama masyarakat,” tutupnya.


Tidak ada komentar