
Bandung, Kataandoolo.com – Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama sejumlah perguruan tinggi dan lembaga riset dari Indonesia dan Australia memperkuat kolaborasi pengembangan agrivoltaics sebagai solusi untuk mendukung transisi energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pedesaan dan pulau-pulau terpencil di Indonesia Timur.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Kick-off Meeting dan Simposium Bilateral bertajuk Agrivoltaics and Energy Challenge in Rural and Remote Islands in Eastern Indonesia di Gedung Rekayasa Molekuler dan Material Fungsional (Labtek XV) ITB, Bandung, Rabu (25/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja sama KONEKSI LPDP Indonesia–Australia yang mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, dan mitra pembangunan dari kedua negara.
Ketua tim riset sekaligus peneliti utama program, Dr. Acep Purqon, mengatakan bahwa transisi energi tidak hanya berbicara mengenai penggantian sumber energi fosil ke energi terbarukan, tetapi juga membuka ruang kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk menjawab persoalan pembangunan di daerah.
“Transisi energi menghadirkan begitu banyak peluang bagi riset, teknologi, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Ini menjadi ruang kolaborasi multidisiplin yang mempertemukan bidang pertanian, kehutanan, teknik, bisnis, hingga manajemen untuk bersama-sama menjawab tantangan krisis energi melalui konsep bridging transisi energi,” ujar Acep.
Menurut dia, pendekatan agrivoltaics memungkinkan lahan dimanfaatkan secara bersamaan untuk menghasilkan energi listrik dari panel surya sekaligus tetap digunakan sebagai lahan pertanian. Model tersebut dinilai mampu memperkuat ketahanan energi, menjaga produktivitas lahan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Program riset ini melibatkan Murdoch University dan Griffith University dari Australia, serta sejumlah institusi di Indonesia, yaitu ITB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Padjadjaran, Universitas Cenderawasih, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Politeknik Negeri Fakfak, IAIN Sorong, dan Purnomo Yusgiantoro Center.
Selama simposium, para peneliti membahas berbagai tantangan dan peluang pengembangan agrivoltaics, mulai dari aspek teknologi, kebijakan, pembiayaan, hingga strategi pemberdayaan masyarakat di kawasan pedesaan dan kepulauan terpencil.
Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA ITB, Dr. Dwi Irwanto, mengatakan ITB terus mendorong lahirnya berbagai inovasi untuk menjawab tantangan krisis energi nasional.
“ITB mendorong berbagai pendekatan untuk menghasilkan solusi krisis energi, termasuk pengembangan *agrivoltaics* agar diperoleh formulasi yang optimal sesuai karakteristik wilayah-wilayah unik di Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Deputi Investasi dan Pendanaan Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), M. Irfan Saleh, menyoroti besarnya peluang investasi energi terbarukan di wilayah Indonesia Timur. Namun, menurut dia, peluang tersebut perlu didukung kebijakan yang mampu menciptakan iklim investasi sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat setempat.
Acep menambahkan, keberhasilan pengembangan agrivoltaics tidak hanya bergantung pada inovasi teknologi, tetapi juga kolaborasi berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.
“Kerja sama pentahelix menjadi kunci keberhasilan transisi energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama dalam proses transisi energi. Karena itu, program ini mengintegrasikan inovasi ilmiah dengan pengetahuan lokal serta mendorong keterlibatan perempuan, generasi muda, dan kelompok yang selama ini belum banyak terlibat dalam sektor pertanian, perikanan, dan energi terbarukan.
Perwakilan Program KONEKSI LPDP Indonesia–Australia, Parana Ari Santi, mengapresiasi dimulainya kolaborasi tersebut. Menurut dia, komunikasi dan koordinasi yang baik antara peneliti Indonesia dan Australia menjadi modal penting agar hasil riset dapat diterapkan secara nyata di masyarakat.
Kegiatan kemudian ditutup oleh Erlin Puspaputri yang mewakili Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Pengembangan agrivoltaics dinilai sejalan dengan arah kebijakan energi nasional. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW), dengan sekitar 61 persen atau lebih dari 42 GW berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi.
Porsi EBT dalam bauran listrik nasional diproyeksikan meningkat dari sekitar 15–16 persen pada 2025 menjadi sekitar 21 persen pada 2030 dan sekitar 34 persen pada 2034. Melalui pengembangan agrivoltaics, desa-desa di Indonesia Timur diharapkan tidak hanya menjadi lokasi pembangunan infrastruktur energi, tetapi juga menjadi bagian penting dari ekosistem transisi energi yang mampu menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan.


Tidak ada komentar