
Kendari,Kataandoolo.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sulawesi Tenggara (BEM UNSULTRA) melayangkan desakan keras kepada Pemerintah Daerah dan pihak terkait untuk segera mengatasi fenomena antrean kendaraan yang mengular panjang di hampir seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Kondisi miris ini dinilai telah dibiarkan berminggu-minggu tanpa adanya solusi taktis, seolah menjadi kebiasaan baru yang sengaja diwajarkan oleh pemerintah.
BEM UNSULTRA menyoroti bahwa krisis antrean ini merupakan efek domino dari kebijakan kenaikan harga Pertamax beberapa waktu lalu. Kenaikan harga tersebut memaksa sebagian besar pengguna Pertamax bermigrasi secara besar-besaran ke Pertalite. Perpindahan konsumsi ini diperparah oleh kondisi ekonomi yang sulit serta merosotnya daya beli masyarakat, sehingga opsi menggunakan BBM bersubsidi menjadi satu-satunya pilihan rasional bagi warga saat ini.
Muh Saiful Haq T Ketua BEM UNSULTRA menegaskan bahwa pemandangan kendaraan yang mengantre hingga berjam-jam bukan lagi sekadar masalah teknis pengisian, melainkan indikasi lemahnya antisipasi tata kelola kebijakan serta pengawasan distribusi BBM di lapangan pasca-kenaikan harga BBM non-subsidi.
“Masyarakat Kota Kendari saat ini dalam kondisi terjepit. Di satu sisi ekonomi sedang sulit dan daya beli masyarakat menurun, di sisi lain harga Pertamax naik. Akibatnya, semua beralih ke Pertalite dan memicu kelangkaan serta antrean panjang yang mengular berjam-jam. Ironisnya, kondisi yang sudah berlangsung berminggu-minggu ini seperti dianggap angin lalu dan diwajarkan oleh pemerintah setempat,” tegas Muh Saiful Haq Ketua BEM UNSULTRA.
Merespons krisis ini, BEM UNSULTRA secara resmi menuntut pemerintah daerah untuk segera merumuskan dan mengeluarkan skema kebijakan taktis di tingkat lokal guna memperketat pengawasan agar Pertalite tepat sasaran.
Selain itu, BEM UNSULTRA juga memberikan saran dan desakan kuat kepada Pemerintah Pusat untuk meninjau serta memikirkan kembali penurunan harga Pertamax. Langkah penurunan harga ini dinilai sebagai solusi hulu yang paling efektif untuk memulihkan daya beli masyarakat dan menarik kembali minat konsumen kelas menengah agar tidak lagi membebani kuota BBM bersubsidi (Pertalite).
Dampak dari antrean panjang ini dinilai telah memicu kerugian ekonomi yang nyata bagi masyarakat kecil, mulai dari sopir angkutan, pelaku UMKM, hingga mengganggu kelancaran arus lalu lintas kota yang memicu kemacetan parah di jalur-jalur utama SPBU Kendari.
“Jika dalam waktu dekat pemerintah tidak melahirkan skema kebijakan yang konkret dan pemerintah pusat tetap menutup mata untuk mengevaluasi harga Pertamax, maka kami dari BEM UNSULTRA bersama elemen mahasiswa dan masyarakat tidak akan tinggal diam dan siap mengambil langkah konsolidasi massa yang lebih besar,” tutup Muh Saiful Haq T, Ketua BEM Unsultra.


Tidak ada komentar