
Kendari,Kataandoolo.com – Setiap tahun kalender menandai bertambahnya usia Sulawesi Tenggara,Umbul-umbul dipasang panggung megah didirikan dan tenda pameran memadati lapangan. Artis ibu kota didatangkan kembang api dinyalakan.
Namun di balik kemilau lampu panggung, muncul pertanyaan mendasar yang terus berulang Apakah HUT Sultra hanya tentang pesta, atau tentang progres?.
HUT Bukan Sekadar Ganti Angka di Baliho
Hari jadi daerah sejatinya bukan sekadar memindahkan angka kalender atau mengganti angka pada baliho ucapan di pinggir jalan. Jika hanya dimaknai sebagai parade baris-berbaris dan pasar malam tahunan, maka kita kehilangan esensi momentum transformasi.
HUT Sultra harus dipandang sebagai waktu untuk berhenti sejenak di tengah deru pembangunan. Momen untuk menengok ke belakang melihat jejak para pendahulu yang menyatukan jazirah ini lalu memandang ke depan dengan jujur.
Pertanyaan kita hari ini bukan lagi, “Seberapa meriah pesta kita?”
Melainkan, “Seberapa jauh kita telah melangkah sejak tahun lalu dalam mengentaskan kemiskinan, memperbaiki infrastruktur jalan, dan meningkatkan literasi?”.
Sulawesi Tenggara tercatat sebagai penghasil nikel terbanyak di Indonesia dan penghasil aspal terbanyak di Indonesia. Kekayaan alam yang melimpah. Namun pertanyaannya apakah kekayaan itu sudah benar-benar menetes ke masyarakat lokal, atau hanya terbang ke luar provinsi dan berputar di perut elite?.
Alih-alih menjadi laboratorium hidup pembangunan, HUT Sultra justru terjebak dalam estetika seremonial. Kita lebih sibuk memoles wajah kota selama sepekan perayaan daripada memperbaiki infrastruktur yang keropos di pelosok desa selama setahun penuh.
Seremonial besar memakan biaya tidak sedikit. Jika anggaran tersebut hanya habis untuk menyewa panggung, sistem suara, dan konsumsi tanpa meninggalkan jejak pembangunan yang nyata, maka HUT tak lebih dari “pesta rakyat” yang usai dalam semalam. Kemajuan hanya dipamerkan lewat stan-stan, bukan dirasakan di kantong-kantong kemiskinan atau akses kesehatan yang sulit.
Wakil SEMA II IAIN Kendari Perdi “HUT Sultra tidak boleh hanya menjadi ajang self-congratulatory antar pejabat. Seharusnya, ini adalah momentum audit sosial dan refleksi kritis”.
Suksesnya perayaan tidak diukur dari berapa banyak artis yang datang, tetapi dari seberapa kuat komitmen yang lahir antara pemerintah dan rakyatnya untuk membangun daerah dengan semangat kolaborasi bukan mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan daerah.
Pesta rakyat yang sejati adalah ketika masyarakat merasakan dampak pembangunan yang nyata dari Pemerintah Sulawesi Tenggara, bukan hanya menonton artis yang datang dan kembang api yang habis dalam hitungan menit.
Tutup perdi “Ulang tahun daerah bukan sekadar menghitung usia dalam angka, tapi menghitung berapa banyak masalah rakyat yang berhasil dituntaskan.


Tidak ada komentar