Sulawesi Bicara di Panggung Dunia: Webinar Internasional Dibuka, Sains dan Kritik Global Menggema dari Timur Indonesia

Amelia Reski
29 Jul 2025 14:20
Pendidikan 0 160
2 menit membaca

Jakarta, kataandoolo.com — Langit akademik Sulawesi menjulang hari ini, Selasa, 29 Juli 2025.

International Collaborative Webinar bertajuk “Synergy of Health and Environmental Sustainability for the Future” resmi dimulai dan langsung menggebrak dengan pemikiran lintas negara. Dua kampus lokal, STIKES Panrita Husada dan IAI Rawa Aopa, menggandeng para ilmuwan dari Malaysia, Inggris, Turki, Thailand, hingga Indonesia untuk merumuskan ulang makna kesehatan dan keberlanjutan lingkungan di tengah krisis global.

Mewakili Malaysia, Prof. Madya Ts. Dr. Roslan Bin Umar dari UNISZA mengawali sesi dengan tema futuristik “From Deep Water to Deep Space”, namun isinya justru sangat membumi. Ia membedah karya-karya ilmiah yang menyentuh langsung problem masyarakat: hipertensi dalam lingkup keluarga. Delapan produk ilmiah hasil kolaborasi UMI telah dikukuhkan sebagai kekayaan intelektual, semuanya diarahkan untuk memperkuat pendidikan keperawatan berbasis komunitas.

“Kami percaya keluarga adalah kunci pertama dari pemulihan pasien. Maka keperawatan harus mulai dari rumah,” ujarnya.

Dilanjutkan oleh Dr. Berry Juliandi dari IPB University, wacana kesehatan meluas ke ranah konservasi. Melalui teknologi bioinformatika dan analisis morfometrik geometrik, ia menjelaskan bagaimana sayap lebah dan pantat monyet bisa menjadi kunci penyelamatan biodiversitas Indonesia. Teknologi, katanya, bukan lagi soal kemajuan, tapi soal keberlangsungan hidup.

Sementara itu, Prof. Dr. Onder Kutlu dari Turki hadir bak orator intelektual. Ia mengkritik langsung ketimpangan arsitektur global, menyebut Dewan Keamanan PBB sebagai ‘elit global yang kehilangan kepercayaan publik’. Ia menyerukan pembentukan gugus tugas global untuk merombak tatanan internasional yang dinilai tidak demokratis.

Ketua Komite Saintifik, Dr. Ismail Suardi Wekke, Ph.D., menegaskan bahwa webinar ini bukan sekadar transfer ilmu. “Ini adalah forum tempat ilmuwan, aktivis, dan pembuat kebijakan bisa bertemu dan saling menyulut pemikiran. Kami tidak sedang membangun menara gading. Kami sedang menyalakan mercusuar perubahan.”

Hari pertama ditutup dengan tekad kolektif: dari laut Sulawesi hingga sistem global, semuanya harus dirombak dengan keberanian dan nalar ilmiah. Sebuah sinyal bahwa kampus-kampus kecil di timur Indonesia kini tak hanya jadi penonton, tapi pemain utama dalam percakapan ilmiah dunia.

kataandoolo.com adalah media jaringan (Network) dari katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
x