Jurnalisme Islam sebagai Jawaban Atas Krisis Etika Publik, Kuliah Umum Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Al Asri di IAIN Parepare

kataandoolo
10 Sep 2025 05:01
Pendidikan 0 78
3 menit membaca

PAREPARE,Kataandoolo.com –Dalam sesi kuliah umumnya, Dr. Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa Jurnalisme Islam bisa menjadi solusi atas krisis etika dan integritas yang melanda dunia jurnalisme saat ini, Selasa, 9 September 2025.

Menurutnya, Jurnalisme Islam bukan berarti hanya memberitakan hal-hal yang berkaitan dengan agama, melainkan sebuah pendekatan dalam menjalankan profesi jurnalistik yang berlandaskan pada nilai-nilai keislaman, seperti kejujuran (siddiq), amanah, dan keadilan.

“Jurnalisme Islam mengedepankan prinsip tabayyun (verifikasi) yang merupakan ajaran Al-Qur’an. Sebelum menyebarkan sebuah berita, kita harus memastikan kebenarannya terlebih dahulu. Ini adalah pondasi utama dalam jurnalisme, dan Islam telah mengajarkannya sejak lama,” jelas Wekke yang juga Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Pendidikan dan Perguruan Tinggi Al Asri, Konawe Selatan.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa nilai-nilai keislaman seperti empati dan keberimbangan menjadi kunci untuk menghasilkan berita yang humanis. Seorang jurnalis tidak boleh hanya mengejar sensasi, tetapi harus memahami dampak dari beritanya terhadap individu dan masyarakat.

“Jangan hanya mengejar rating dan like. Pikirkan apakah berita yang kita tulis akan membawa manfaat atau malah kerugian bagi orang lain. Jurnalisme Islam mengajarkan kita untuk menjadi jurnalis yang berpihak pada kebenaran, bukan pada kebencian atau diskriminasi,” tambahnya.

Sesi tanya jawab menjadi bagian interaksi antara narasumber dan peserta. Selain pertanyaan tentang tantangan di lapangan, beberapa mahasiswa juga menanyakan peluang karir bagi lulusan Jurnalistik Islam.Wekke, yang juga dikenal sebagai akademisi dan penulis buku, memberikan pandangan optimistis. Menurutnya, lulusan Jurnalistik Islam memiliki keunggulan kompetitif.

“Kalian tidak hanya dibekali dengan kemampuan menulis dan melaporkan, tetapi juga pemahaman yang mendalam tentang etika dan nilai-nilai agama. Ini adalah modal besar untuk berkarir di berbagai bidang, tidak hanya media massa,” ujarnya.

Ia mencontohkan, lulusan prodi ini bisa bekerja sebagai: Jurnalis investigasi di media nasional. Begitu pula Konten kreator yang berbasis riset dan etika. Termasuk Spesialis komunikasi publik di lembaga pemerintah atau swasta. Diantaranya juga Penyiar radio atau presenter televisi. Terakhir, Penulis buku atau editor.

“Yang terpenting, jadilah jurnalis yang berani, berintegritas, dan tidak pernah berhenti belajar. Dunia jurnalisme akan terus berubah, dan hanya mereka yang mau beradaptasi dan memegang teguh prinsip yang akan bertahan,” pungkas Wekke.

Kuliah umum ini ditutup dengan kata penutul Ketua Program Studi Jurnalistik Islam, Nahrul Hayat, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Wekke.

“Kuliah yang diberikan oleh Bapak Wekke sangat berharga. Semoga ini menjadi motivasi bagi mahasiswa kami untuk menjadi jurnalis-jurnalis hebat yang berintegritas dan profesional, serta mampu mengaplikasikan nilai-nilai Jurnalisme Islam dalam karir mereka kelak,” tutup Nahrul Hayat yang akrab dipanggil Aya.

Kuliah umum ini diharapkan bisa menjadi agenda rutin untuk memperkaya wawasan mahasiswa dan mempererat hubungan antara akademisi dan praktisi di lingkungan IAIN Parepare.

kataandoolo.com adalah media jaringan (Network) dari katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
x