
JAKARTA,Kataandoolo.com — Pertemuan hangat para alumni Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) di Jakarta, Sabtu (9/8/2025), tidak sekadar menjadi ajang nostalgia. Di balik suasana ramah tamah di Kimaya Hotel, Slipi, tersimpan pesan strategis tentang peran alumni sebagai jembatan hidup hubungan Indonesia–Malaysia di ranah pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia.
Naib Canselor UKM yang baru dilantik dua bulan lalu hadir bersama jajaran pimpinan kampus: Timbalan Naib Canselor, pejabat Biro Hal Ehwal Pelajar dan Alumni (HEPA), serta Kantor Perhubungan Alumni. Kehadiran mereka di tengah komunitas alumni Indonesia mencerminkan keseriusan kampus nasional Malaysia itu menjaga kedekatan dengan para lulusan yang kini berkiprah di berbagai sektor.
Akademisi Ismail Suardi Wekke memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan gagasan kelanjutan kerjasama UKM dengan perguruan tinggi di Indonesia. Ia menyoroti kunjungan 14 perguruan tinggi keagamaan Islam swasta di bawah APTIKIS ke UKM pada awal Agustus, yang membahas tata kelola komunikasi alumni dan pengelolaan kampus. “Tindak lanjut MoU dan MoA akan memberi kepastian bagi program bersama yang terarah dan terdokumentasi,” ujarnya.
Isu riset lintas negara turut mendapat sorotan. Salah satu peluang yang mengemuka adalah kajian keanekaragaman hayati di Kawasan UNESCO Global Geopark Maros–Pangkep, kerja sama yang akarnya sudah tertanam sejak penandatanganan Letter of Intent pada 2022. Dengan dukungan penuh UKM dan mitra Indonesia, inisiatif ini diharapkan menjadi model kolaborasi ilmiah yang berdampak langsung bagi pengelolaan sumber daya alam dan pariwisata berkelanjutan.
Keterlibatan akademisi UKM di Indonesia juga terus terjaga. Pada Juli 2025, Prof. Zuliskandar menjadi pembicara kunci di Gau Maraja Conference di Turikale, sebuah forum yang mempertemukan peneliti, pendidik, dan tokoh masyarakat. Kehadiran ini memperkuat diplomasi akademik yang lahir dari interaksi langsung, bukan hanya dari nota kesepahaman di atas kertas.
Semboyan UKM, “Mengilhamkan Harapan, Mencipta Masa Depan”, menemukan relevansinya dalam pertemuan ini. Alumni tak sekadar menjadi saksi perjalanan almamater, tetapi aktor yang memastikan hubungan Indonesia–Malaysia di bidang pendidikan terus bertumbuh, berlapis, dan saling menguatkan. Di tengah dinamika global, jembatan yang dibangun oleh para alumni inilah yang menjadi fondasi kokoh bagi kolaborasi antarbangsa di masa mendatang.


Tidak ada komentar