Zoom dari Timur, Wawasan dari Lima Penjuru: Obesitas, Etika Islam, dan Ketahanan Bangsa

Amelia Reski
31 Jul 2025 04:24
Pendidikan 0 93
3 menit membaca

Makassar, kataandoolo.com – Di antara layar yang tak selalu jernih dan sinyal yang kadang tertunda, satu hal tetap mengalir lancar: semangat untuk memahami kesehatan dari banyak sisi. Hari kedua Seminar Kesehatan Internasional yang digelar STIKES Panrita Husada Bulukumba dan IAI Rawa Aopa Konawe Selatan bukan hanya kelanjutan dari acara kemarin. Ia menjadi lensa besar untuk membaca apa yang sedang terjadi pada tubuh manusia, masyarakat, dan dunia.

Pembicara pertama, Dr. Muryati, menyampaikan presentasi yang terdengar sederhana tapi berdampak luas: Obesitas dan Lingkungan. Ia menunjukkan bahwa kelebihan berat badan bukan hanya soal makan berlebih, tapi juga kurangnya pilihan hidup sehat di sekitar kita. Ia memetakan bagaimana anak-anak tumbuh di tengah ruang terbatas, makanan instan, dan budaya daring yang memuliakan makan berlebihan. Dalam paparannya, solusi tak dimulai dari rumah sakit—tapi dari meja makan keluarga dan jalan-jalan kecil yang harus kembali dibuat ramah anak.

Selanjutnya, Dr. Andi Suswani membawa audiens pada satu kenyataan pahit: diabetes kini menyerang remaja. Ia menjelaskan bahwa rasa manis yang disukai remaja tidak hanya memuaskan lidah, tapi juga mempercepat kerusakan tubuh. Yang mengejutkan, remaja tak lagi responsif terhadap pengobatan dasar, dan membutuhkan perawatan intensif sejak usia muda. Dalam narasinya, penyakit ini tak datang tiba-tiba. Ia dibentuk oleh iklan, kebiasaan, dan sistem pendidikan yang lupa mengajarkan pentingnya gizi.

Suasana berubah ketika Prof. Dr. Muh. Shakree Manyunuh dari Thailand tampil. Dengan gaya yang tenang, ia mengajak peserta melihat kesehatan dari lensa spiritual dan kebijakan. Dalam Islam, katanya, menjaga kesehatan adalah bentuk syukur dan tanggung jawab sosial. “Jika ada satu bagian tubuh yang sakit, seluruh tubuh ikut merasa,” katanya mengutip hadis. Ia menekankan pentingnya sistem kesehatan yang adil, dan bagaimana negara harus hadir bagi yang paling lemah.

Kemudian tampil Dr. Ujang Kamaruddin. Ia datang dengan semangat pembangunan. ASTA CITA—visi delapan arah Prabowo-Gibran—dijelaskannya sebagai jembatan menuju bangsa sehat dan cerdas. Ia menekankan pentingnya investasi pada riset, beasiswa, serta layanan pendidikan dan kesehatan gratis. Ujang tidak sedang berkampanye. Ia sedang menunjukkan bahwa tanpa SDM unggul, visi pembangunan hanyalah poster yang mudah luntur.

Terakhir, dari Inggris, Prof. Dr. Cristian Kaunert memberikan penutup yang menggugah. Ia memaparkan bahwa kesehatan kini adalah strategi pertahanan. Dalam masa krisis, bukan rudal, tapi ventilator yang paling dibutuhkan. Ia menunjukkan bagaimana satu wabah bisa membuat dunia terhenti. “Kesehatan adalah titik lemah dan titik kekuatan sebuah negara,” katanya.

Kelima pembicara ini tak hanya datang dari disiplin yang berbeda. Mereka datang dari kepedulian yang sama: bahwa kesehatan bukan urusan medis semata. Ia bersinggungan dengan moral, politik, ekonomi, bahkan spiritualitas. Di tangan mereka, ilmu bukan hanya pengetahuan. Ia adalah panggilan.

Dan Zoom yang mempertemukan mereka bukan sekadar aplikasi. Ia menjadi jendela dunia dari Sulawesi Selatan. Dari kampus kecil yang sedang berpikir besar. Dari mahasiswa yang mulai paham bahwa dunia bisa dibaca dari tubuh, dari kebijakan, dan dari keadilan.

Seminar ini akan berlanjut. Tapi hari ini, ia telah menanam satu hal: kesadaran. Bahwa sehat adalah hak, kewajiban, dan kekuatan. Dan untuk menjaganya, dunia harus bicara—dengan ilmu, dengan iman, dan dengan harapan.

kataandoolo.com adalah media jaringan (Network) dari katasulsel.com

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x
x