Jakarta, kataandoolo.com — BINUS University terus mematangkan persiapan menyambut konferensi internasional ICOBAR 2025 dengan menyelenggarakan workshop penguatan luaran publikasi ilmiah. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 23–24 Agustus mendatang di kampus BINUS Alam Sutera ini digadang-gadang menjadi momentum strategis, bukan hanya bagi institusi tuan rumah, tapi juga bagi akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Dalam acara workshop bagi penulis yang lulus seleksi, Senin, 28 Juli 2025, Ismail Suardi Wekke, menjadi fasilitator dalam workshop tersebut, menyebut kegiatan ini sebagai “ikhtiar serius membangun fondasi ekosistem kolaborasi akademik yang setara dan saling menguatkan”.
“Tahapan yang jalankan siapkan ini bukan cuma workshop, melainkan ruang bersama untuk membiasakan akademisi kita menghasilkan luaran dari setiap perjumpaan ilmiah—baik berupa buku, prosiding, atau publikasi jurnal internasional bereputasi,” ujar Ismail yang juga merupakan editor seri buku terbitan IGI Global, penerbit ilmiah terkemuka berbasis di Amerika Serikat.
Ia menekankan bahwa kegiatan seperti ini penting dalam mendorong kebiasaan baru di lingkungan akademik Indonesia: menulis sebagai praktik kolaboratif, bukan kerja soliter. Menurutnya, selama ini masih banyak kegiatan ilmiah yang berhenti pada seremonial presentasi tanpa tindak lanjut yang nyata dalam bentuk publikasi atau pengaruh ke masyarakat luas.
“BINUS menangkap kegelisahan itu, dan lewat forum seperti ini, kita tidak sekadar mengajarkan teknis menulis ilmiah, tapi juga membangun karakter ilmuwan yang terbiasa berpikir lintas batas institusi dan disiplin,” tambahnya.
Workshop yang menjadi bagian dari rangkaian International Conference on Biospheric Harmony Advanced Research (ICOBAR) itu sendiri, akan mengangkat pendekatan biospheric harmony sebagai kerangka berpikir transdisipliner—di mana isu lingkungan, teknologi, sosial, dan budaya dikaitkan dalam satu simpul riset berkelanjutan.
Bagi Ismail, keikutsertaan akademisi dari berbagai wilayah Indonesia dalam kegiatan ini adalah “langkah awal menuju peta kolaborasi nasional yang kuat, terutama dalam ranah publikasi global”. Ia menyebut pentingnya distribusi kesempatan yang adil dalam akses ke platform publikasi bereputasi.
Ismail menegaskan bahwa dengan kepercayaan yang diberikan kepada The Academia of Papua, menjadi sebuah peluang emas dan sekaligus sebagai penghargaan bagi ilmuwan di Tanah Papua.
“Kalau kita terus-menerus menunggu dari pusat, maka daerah akan selalu jadi penonton. Posisi ingin kita bangun sekarang adalah keberanian dari daerah untuk ikut ambil peran dalam percaturan keilmuan internasional, dan BINUS membuka pintunya untuk kita semua,” katanya, mantap.
Workshop ini, sambungnya, telah dirancang bukan sebagai pertemuan satu arah. Setiap peserta akan aktif dalam simulasi penulisan, diskusi naskah, hingga penyusunan roadmap publikasi yang realistis namun menantang. Ia juga menyebut sudah ada beberapa naskah kolaboratif lintas kampus yang mulai disusun menjelang kegiatan.
Di tengah melimpahnya informasi, Ismail berharap lahir lebih banyak jejaring akademik yang kokoh, tidak sekadar berkumpul dalam konferensi tetapi saling menguatkan dalam produksi pengetahuan.
“ICOBAR bisa jadi titik temu. Tapi keberlanjutannya tergantung pada keberanian kita untuk tidak berhenti di seremoni. Saatnya universitas di Indonesia menulis bersama, bukan sendiri-sendiri,” pungkasnya.
BINUS, dengan reputasinya sebagai universitas berbasis riset dan inovasi, telah mengirim sinyal kuat bahwa masa depan kolaborasi ilmiah Indonesia sedang dipersiapkan dengan lebih serius dan inklusif. Asapun di balik itu, ada semangat yang diam-diam sedang bergerak—menyatukan ruang kelas, laboratorium, dan ide-ide dari seluruh penjuru negeri. (*)
Tidak ada komentar